a.
Blas(Blast)
Penyakit ini sering juga
disebut dengan nama “Penyakit Pyricularia” karena disebabkan oleh patogen jamur
Pyricularia oryzae Cav dan merupakan penyakit utama pada tanaman padi penyakit
ini menyebar pada semua Negara penghasilan padi di dunia,termasuk di
Indonesia.Penyakit ini terutama banyak menyerang pada lahan persawahan yang
subur,dengan kandungan nitrogen berlebihan.Akibat serangan penyakit
ini,kerugian dapat terjadi dari ringan sampai gagal panen tergantung dari
tingkat serangan dan Ketahanan varietas padi yang dibudidayakan.
Bagian tanaman
yang di serang oleh penyakit blas adalah daun,buku tangkai malai,rotten
neck,atau blast panicle.Penyakit ini selalu ada pada penanaman padi,tetapi
tingkatan serangannya tergantung dari iklim dan sistem budidaya yang
diterapkan.Penyebaran penyakit ini terutama melalui angin yang menerbangkan
konidium jamur ke berbagai tempat di sekitarnya,baik pada waktu malam ataupun
siang hari tergantung pada kelembapan
nisbi udara,terutama pada kelembapan nisbi lebih dari 90%.
Pengendalian serangan
penyakit ini dapat dilakukan dengan beberapa teknik budidaya,antara lain:
1.
Penggunaan varietas toleran
blas secara bergantian untuk mengantisipasi timbulnya ras blas baru.
2.
Penggunaan pupuk NPK yang
tepat,terutama penggunaan nitrogen.
3.
Tanaman serentak,untuk
memutuskan siklus hidup jamur.
4.
Pengendalian
kimia,mempergunakan fungisida yang mengandung senyawa (metil
tiofanat,fosdifen,dan kasugamiskin),contohnya Kasumiron 25/1 WP.
5.
Pengendalian hayati dengan
memanfaatkan bakteri antagonis,seperti Pseudomonas fluorescens yang merupakan
bakteri gram-negatif berbentuk batang yang efektif mengkoloni daerah rhizosfer
perakaran tanaman padi.
Penggunaan pupuk nitrogen yang tidak tepat akan memacu pertumbuhan
vegetative yang berlebihan.Hal ini akan menyebabkan tanaman rentan terhadap
serangan blas karena struktur dari tanaman lunak.dengan dosis pemupukan
nitrogen menggunakan indikator warna daun,seperti terlihat pada Gambar 8.1
dapat mencegah tanaman padi dari serangan blas.
b.
Bercak Coklat
Penyakit bercak
coklat (brown spot) merupakan penyakit yang berbahaya bagi tanaman padi.Akibat
serangan penyakit ini,kerugian dapat
mencapai 40%.selain menyerang tanaman dewasa penyakit ini juga menyerang bibit
tanaman padi dari benih yang terinfeksi.Akibat serangannya dapat menyebabkan
kematian bibit lebih dari 50%.serangan terparah pernah terjadi di Bengal,india,
dan Florida Amerika Serikat yang menyebabkan kehilangan hasil antara 14-90%.
Penyakit bercak coklat disebabkan oleh jamur Bipolaris
oryzae(sinonim)Helminthosporium oryzae Breda de Haan yang dapat menyerang semua
bagian tanaman seperti akar,batang,bulir gabah,daun,dan bibit .Penyebarannya
terjadi melalui spora yang di terbangkan oleh angina.jamur patogen ini
mempunyai kemampuan bertahan dalam waktu yang lama (4 tahun)dalam benih yang
terinfeksi.Penyakit ini dapat berkembang dengan baik terutama pada kondisi
tanah yang kurang hara dengan kelembabpan nisbi yang tinggi (lebih dari 80%)dan suhu yang optimum untuk
perkembangannya adalah 16-36 oC.
Pengendalian penyakit
bercak coklat dapat dilakukan dengan beberapa cara,antara lain penggunaan
varietas padi toleran terhadap penyakit bercak coklat,pemupukan
berimbang,perlakuan benih(seed borne)dengan fungisida,dan eradikasi lingkungan
sawah.
c.
Hawar upih Daun
Penyakit upih daun
(sheath blight)banyak di temukan di Indonesia dan merupakan penyakit
penting.pada areal penanaman yang terserang berat,kerugiannya dapat menurunkan
produksi antara 20-25%,bahkan pada varietas peka kerugian dapat mencapai 50%.
Gejala serangan
terlihat bercak pada upih daun bagian bawah dekat dengan garis air pada stadium
anakan atau awal perpanjang buku.bercak tersebut dapat berkembang dengan bentuk
tidak teratur dengan warna bagian tepi coklat kemerahan,sedangkan serangan pada
bagian batang ukurannya lebih kecil.pada varietas padi peka,serangan penyakit
ini dapat menyebabkan tanaman padi
menjadi layu.Akibat serangan penyakit ini,gabah padi menjadi hampa.
Penyakit ini di
sebabkan oleh jamur Thanatephorus
cucumeris Frank(stadium anomorf)atau nama sebelumnya Rhizoctonia solani
kunh(stadium telomorf).gejala awal penyakit ini berupa bercak oval atau bulat
berwarna coklat ke abu-abuan pada pelepah daun.
Pengendalian penyakit
hawar upih daun dapat dilakukan dengan beberapa cara,yaitu memakai varietas
toleran,pengaturan jarak tanam,metode budidaya SRI,pergiliran tanaman,dan
pengendalian dengan fungisida dengan kandungan bahan
kimia(belerang,flutalonil,heksakonazol,karbendazim,dan difenokonazol).
d.
Hawar Fusarium
Penyakit hawar
Fusarium banyak menyerang tanaman padi yang dibudidayakan pada daerah beriklim
basah seperti Indonesia.Di Indonesia,laporan serangan penyakit ini sudah ada
sejak tahun 1938 di daerah Cirebon.Penyakit ini tersebar pada beberapa Negara
Penghasilan tanaman padi,seperti Thailand,India,Jepang,Tiongkok,dan
lain-lain.Kerugian akibat Serangan penyakit ini pada berbagai Negara sangat
bervariasi antara 3.7% sampai 50% tergantung ketahanan varietas yang
digunakan.serangan penyakit dapat terjadi dipembibitan maupun lapangan.Gejala
tanaman terserang Penyakit menunjukkan pertumbuhan abnormal yang lebih tinggi
dari pada tanaman normal dan pembentukan anakan terhambat.serangan pada fase
generatif,penyakit menyerang bunga dan gabah muda Sehingga gabah menjadi hampa.
Penyakit hawar
fusarium disebabkan oleh serangan jamur Fusarium moniliforme(Sheldon)nama
lainnya F.fujikuroi(Sawada),dan F. Verticillioides(Saccardo)atau jamur
Gibberella fujikuroi(sawada)sinonimnya G.moniliforme(Sheldon)dan Lisea
fujikuroi sawada.
Komentar
Posting Komentar